Jumat, 19 Januari 2018

Sistem Saraf Refleksi Pada Katak

LAPORAN KULIAH LAPANGAN 
LABORATORIUM UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

UJI PENENTUAN REFLEKSI PADA KATAK

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah 
Praktikum Fisiologi Hewan yang Diampu Oleh : Siti Nurkamilah, M.Pd



Disusun Oleh :

                                                     Nadia Muwahidah               15542031
                                                     Adelisna                                 15543005
                                                     Yani Juniarti                          15543007
                                                     Dini Rahmayanti                  15544005
                                                     Teguh Imshan Karim           15544006
                                                     Neng Saadatul Muharomah 15544007




JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS MIPA DAN ILMU TERAPAN
INSTITUT PENDIDIKAN INDONESIA
IPI - GARUT
2018




I.                 Judul Praktikum
Refleks Pada Katak
II.              Tujuan Praktikum
Mempelajari Refleks Normal Dan Spinal Pada Katak
III.             Landasan Teori
Tiap bagian suusnan saraf pusat mempunyai fungsi tertentu dengan sifat merangsang (fasilitasi) atau menghambat (inhibisi) bagian-bagianb tertentu dari otak dan selanjutnya mengamati reaksi reaksi yang timbul,dapat diambil kesimpulan yang tepat mengeanai fungsi bagian-bagian tersebut , tetapi dapat juga bagian-bagian tubuh yang lain. Hal ini terjadi karena bila suatu reseptor dirangsang cukup kuat ,maka rangsangan tersebut diteruskan melalui saraf aferen berpusat. Dipusat, rangsangan tersebut diteruskan melalui beberapa saraf asesoris menuju ke beberapa saraf aferen berpusat. Dipusat rangsangan tersebut diteruskan melalui beberapa saraf asesoris menuju ke beberapa saraf aferen  dan lebih dari satu efektor. Jadi apabila saraf aferen terangsang, efektor-efektor tersebut akan serempak bereaksi.
      Unit dasar aktivitas integrative saraf adalah busur reflek. Busur ini terdiri dari organ sensorik, reseptor neuron aferen, satu sinap atau lebih pada integrasi sentral. Neuron aferen dan efektor. Pada mammalia dan manusia, hubungan neuron aferen dan eferen saraf somatic adalah dalam otak atau medulla spinalis.
      Neuron aferen termasuk melalui radiks dorsal atau saraf-saraf kranial dan badan selnya terletak pada gangliom radiks dorsal atau gangliom yang sejenis dari saraf kranial , serabut efern meninggalkan rangsang melalui radiks ventral atau saraf motoric kranial yang sejenis. Didapatkan dua macam reflex yaitu:
a.       Refleks monosinaps, dimana hanya terdapat satu sinaps antara serabut aferen dari eferen (contoh: reflex pada bagian patella atau reflex achilles)
b.       Refleks polisisnaps yang mempunyai busus reflex dengan lebih dari satu interneuoron diantara neuron aferen dan eferen (contoh: reflex pada kornea mata)
Aktivitas Refkeks baik yang monosinaps dan polisisnaps adalah stereotype dan spesifik menurut perangsangan dan responnya, dimana rangsangan tertentu akan menimbulkan jawaban tertentu pula.

IV.             Alat Dan Bahan Praktikum

Ø  Alat-alat praktikum
1.      Bak bedah

2.      Statif

3.      Rantai penggantung katak


4.      Sonde/pengaduk gelas


5.      Gunting bedah



6.      Beaker gelas



Ø  Bahan praktikum

1.      Katak 

2.      Larutan HNO3 encer
3.      Larutan H2SO4 : 1%, 3%, 5%

4.      Larutan fisiologis NaCL 0.6 %)


V.                   Cara kerja
1.      Cara Kerja Katak Normal
a.   Dipegang katak yang masih hidup dengan tangan kiri dan digenggam kedua kaki belakangnya, kemudian didekatkan pada gelas pengaduk/ sonde pada daerah mata. Diamati refleks yang terjadi.
b.     Disentuh nares eksterna pada katak tersebut dan diperhatikan gerakan nares eksterna tersebut.
c.     Diuusap bagian tenggorokan samapi bagian perut dan diperhatikan gerakan reflleks yang terjadi
d.  Digores/disentuh bagian lateral atau dorsal tubuh katak, apakah katak tersebut berbunyi
e.  Dipegang kedua kaki depannya dan membiarkan kedua kaki belakang bebas, kemudian menggoreskan gelas pengaduk yang telah dicelupkan ke dalam HNO3 Encer pada punggungya. Diamati apa yang terjadi?
f.  Dilakukan sumasi rangsang kimia seperti pada katak yang telah mengalamai dekapitasi.
2.      Cara kerja katak yang telah didekapitasi
Seekor katak yang telah dihilangkan otaknya katak yang hanya memiliki spinal (spinal frog) atau katak didekapitasi. Ketika mengangkat otaknya mengerjakan dengan hati-hati agar tifak merusak tulang belakangnya(spinal cord) . Diperhatikan cara berikut: Dimasukan gunting bedah ke dalam mulut katak dan menganngakat kepalanya, kemudian menggunting dibawah membrane timpani. Ditutup ujung potongan tersebut dengan kapas dan menggantung katak tersebut pada statif dengan mengkait rahang bawahnya. Diteteskan larutan fisiologis agar kesadarannya pulih kembali. Setelah katak siuman mengerjakan hal-hal berikut:
a.       Dimasukan katak tersebut kedalam akuarium , diperhatikan gerakannya
b.   Kemudian diterlentangkan katak pada bak bedah, diperhatikan apakah katak berusaha untuk membalikan badannya atau tidak
c.      Selanjutnya diletakan katak tadi pada bidang miring mengarah ke bawah bidang tersebut, diperhatikan gerakannya
d.     Digantung katak tersebut pada bagian rahang bawahnya.
e.      Dilakukan sumasi dengan ransang zat-zat kimia seperti berikut:
·    Disesuaikan tiga gelas beaker yang masing-masing berisi larutan H2SO4 1%, 3%, 5%. Dicelupkan ujung jari katak pada larutan yang terlemah.
·        Diulangi beberapa kali  sampai terjadi respon
·   Dicelupkan ujung jari kaki katak tersebut pada larutan yang lebih kuat, diperhatikan sebelum dicelupkan jari katak dicuci terlebih dahulu
·   Disentuh jari kaki belakang dan jari kaki depan dengan benda panas . diperhatikan reaksinya?

·   Disentuh pula bagian ventral/perutnya dengan benda panas, bagaimana reaksinya?


VI.                   Hasil Pengamatan

1.      Hasil Pengamatan katak normal

Jenis rangsang
Tanggapan yang diberikan oleh katak
Keterangan
Dengan sonde
Mata katak dan kelopak berkedip bagian pupil mengecil
Refleks polisinaps
Dengan sentuhan tangan
Terjadi gerakan kembang kempis pada nares eksterna
Refleks polisinaps
Dengan sentuhan tangan
Tidak ada respon apapun
Refleks polisinaps
Dengan sentuhan tangan
Mengendap/menolak respon
Refleks polisinaps
Gelas pengaduk dengan HNO3 encer
Bergerak / semua tubuh merespons
Refleks monosinaps



2.      Hasil pengamatan katak yang telah didekapitasi

Jenis rangsang
Tanggapan yang diberikan oleh katak
Keterangan
Dimasukan dalam beaker gelas
Katak berenang dan Terjadi gerakan pada kakinya
Refleks monosinaps
Bak bedah
Katak tidak berusaha membalikan badannya tapi kakinya bergerak
Refleks monosinaps
Bak bedah dibidang miringkan
Katak tidak bergerak
Tidak ada refleks
Rantai penggantung melakukan sumasi dengan rangsangan zat-zat kimia
·         1 % : dicelupkan pada kaki kiri ,kaki bergerak
·         3% : dicelupkan pada kaki kiri , bergerak lebih cepat, respon cepat
·         5 %: respon lambat , bergerak
Refleks monosinaps
Dengan sonde dipanaskan
Tidak terjadi respon apapun
Tidak ada refleks
Dengan sonde dipanaskan
Merespon, perut bergerak
Refleks polisinaps



VII.                   Pembahasan
Pada praktikum sistem saraf dilakukan 2 percobaan yaitu perlakuan pada katak normal dan pada katar yang telah didekapitasi (seekor katak yang telah di hilangkan otaknya atau hanya memiliki spinal). Tujuan pada praktikum ini yaitu untuk mengetahui refleks normal dan spinal pada katak. Ada tiga rangsangan yang dilakukan yaitu, rangsangan mekanis, rangsangan kimia dan rangsangan termis.
Pada rangsangan mekanis, dilakukan dengan menggunakan pengaduk atau sonde. Hasil yang didapat adalah pada katak normal, saat nares eksterna pada katak tersebut disentuh terjadi kedipan mata. Pada anggota badan anterior diusap bagian tenggorokan sampai bagian perut dan hasilnya kaki katak bergerak. Dan pada saat bagian lateral atau dorsal tubuh katak di gores/di sentuh katak tersebut tidak memberikan respon apapun (tidak berbunyi).
Pada rangsangan kimia dilakukan dengan meneteskan HNO3 encer pada bagian punggungnya. Hasil yang didapat adalah pada katak normal setelah ditetesi HNO3 katak tersebut berontak sedangkan pada katak yang telah didekapitasi, katak tersebut di gantung pada statif dengan mengaitkan rahang bawahnya kemudian ditetesi dengan larutan fisiologis (HNO3) agar kesadarannya kembali pulih. Pada saat katak tersebut dimasukan ke dalam akuarium kaki katak bergerak, kemudian katak di telentangkan pada bak bedah dan katak tersebut tidak bergerak. Selanjutnya diletakan pada bidang miring katak tersebut juga tidak bergerak, Sedangkan pada katak yang telah didekapitasi dicelupkan ujung jari katak pada larutan yang terlemah yaitu larutan H2SO4 1%, 3%, dan 5% yang telah disediakan pada 3 beaker glass. Respon yang di hasilkan pada larutan 1% dicelupkan kaki kiri dan kemudian memnggerakan kaki belakang. Pada larutan 3% bergerak lebih cepat tetapi tubuh merespon lambat. Dan pada larutan 5% jantung berdetak lebih cepat tetapi respon tubuh lebih lambat (berontak).
Pada rangsangan termis, dilakukan dengan menempelkan besi yang teah dipanaskan. Hasil yang didapat yaitu pada katak yang telah didekapitasi, saat jari kaki belakang dan jari kaki depan disentuh tidak ada respon. Kemudian di sentuh bagian ventral/perutnya katak tersebut memberikan respon (peruty bergerak).
Pada katak didekapitasi yang ditusuk adalah bagian anterior otak yang menghubungkan membran timpani. Yang dirusak adalah bagian cerebrum (otak besar). Katak spinal merupakan katak dengan kondisi otak yang rusak tetapi respon yang dihasilkan tetap ada namun katak merespon stimulus sangat lama. Hal ini dikarenakan sistem saraf pada otaknya telah mengalami kerusakan pada saat pengguntingan dengan gunting pada saat praktikum.
Penurunan reaksi katak karena koordinasi yang tidak baik lagi antara sel-sel saraf akibat pengguntingan. Pada kondisi katak normal, katak memberikan respon sangan kuat karena katak masih memiliki sistem saraf pusat yang normal sehingga penyampaian impuls tidak terganggu.
Refleks adalah suatu respon organ efektor (otot ataupun kelenjar) yang bersifat otomatis atau tanpa sadar terhadap suatu stimulus tertentu. Respon tersebut melibatkan suatu rantai yang yang terdiri atas sekurang-kurangnya 2 neuron, membentuk suatu busur refleks. Dua neuron aferen, sensoris, atau efektor. Umumnya satu atau lebih neuron penghubung (interneuron) terletak diantara neuron reseptor dan neuron efektor. Meskipun refleks dapat melibatakan berbagai bagian otak dan sistem saraf otonom, refleks yang paling sederhana adalah refleks spinal. Suatu refleks spinal yang khas adalah refleks rentang yang digambarkan dengan refleks pemukulan ligamentum patela (suatu tendon), sehingga menyebabkan otot lutut terlentang. Apabila tempurung lutut tiba-tiba membengkok, gerakan ini akan merentangkan otot quadriseps sehingga melahirkan refleks yang menyebabkan quadriseps berkontraksi. Akibatnya terjadi perentangan lutut.
Kenyataan bahwa aksi refleks ini tidak memerlukan kontrol kesadaran dapatlah ditunjukan dengan seekor hewan, misalnya katak, yang otaknya telah diambil dengan cara memotong korda spinalis. Seekor hewan yang telah diputuskan kolumna spinalisnya disebut hewan spinal, karena semua aktivitas arah kandal dari lokasi pemotongan itu pastilah hanya karena korda spinalisnya tidak ada lagi hubungannya dengan otak.

Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan terlihat bahwa pada katak normal, rangsang yang diberikan menghasilkan respon yang normal pula. Namun terjadi pengurangan frekuensi respon pada katak yang didekapitasi masih dapat memberikan respon. Hal ini disebabkan karena jantung katak bersifat neurogenik sehingga katak masih mampu memberikan respon. 


VIII.                   Kesimpulan
Berdasarkan hasil dari praktikum yang kami laksanakan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa :
·      Katak normal menunjukan reaksi yang normal terhadap semua perlakuan atau 
     rangsangan

·   Terjadi pengurangan frekuensi respon pada katak yang telah didekapitasi, akan tetapi katak yang telah didekapitasi masih dapat memberikan respon. Karena katak yang otaknya telah diambil dengan cara memotong korda spinalis masih bisa memberikan respon   karena semua aktivitas arah kandal dari lokasi pemotongan itu pastilah hanya karena korda spinalisnya tidak ada lagi hubungannya dengan otak.



DAFTAR PUSTAKA

Iswari. Mega.2010. Anatomi Fisiologi dan Dasar Neurologi (Dasar Ilmu Faal dan Saraf   
untuk Pendidikan Luar Biasa). Padang : UNP Press

Pearce. Evelyn.C. 2002. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis.Jakarta :PT. Gramedia

Tim Asistensi. 1990. Diktat Asistensi Anatomi Hewan-Zoologi. Yogyakarta. Jurusan Zoologi 
UGM


PERTANYAAN
1.      Pada katak yang telah didekapitasi apakah masih sanggup merespon setiap rangsang yang diberikan?jelaskan jawaban anda?
Jawab : Sanggup,terutama gerak refleks yang berasal dari sumsum tulang belakang
2.      Apakah yang dimaksud dengan refleks? Jelaskan bagaimana mekanismenya!
Jawab :
Ø  Yang dimaksud dengan  refleks: Refleks adalah gerakan yang dilakukan tanpa sadar dan merupakan respon segera setelah adanya rangsang.
Ø  Mekanisme Refleks

Rangsang----> reseptor----> neuron sensorik----> konektor( otak /sumsum tulang belakang)----> neron motoric----> efektor.


LAMPIRAN









Sistem Ekskresi

LAPORAN KULIAH LAPANGAN 
LABORATORIUM UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

UJI PENENTUAN SISTEM EKSKRESI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah 
Praktikum Fisiologi Hewan yang Diampu Oleh : Siti Nurkamilah, M.Pd



Disusun Oleh :

                                                     Nadia Muwahidah               15542031
                                                     Adelisna                                 15543005
                                                     Yani Juniarti                          15543007
                                                     Dini Rahmayanti                  15544005
                                                     Teguh Imshan Karim           15544006
                                                     Neng Saadatul Muharomah 15544007







JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS MIPA DAN ILMU TERAPAN
INSTITUT PENDIDIKAN INDONESIA
IPI - GARUT
2018



I.                   Judul Percobaan
Sistem Ekskresi
II.                Tujuan Percobaan
·         Untuk memeriksa ada tidaknya glukosa dalam urine.
·         Untuk memeriksa ada tidaknya chloride dalam urine
·         Untuk mengenal bau amonia dari hasil pengamatan urea dalam urine
III.             Dasar Teori
System urinaria terdiri atas ginjal, ureter, kantung kemih, dengan menghasilkan urin yang  merupakan hasil sisa metabolisme. Ginjal mempertahankan susunan kimia cairan tubuh melalui beberapa proses yaitu filtrasi plasma darah oleh glomerulus, absorpsi kembali secara selektif zat-zat seperti garam, air, gula sederhana, asam amino oleh tubulus, dan sekresi zat-zat oleh tubulus dari darah kedalam lumen tubulus dalam bentuk urin. Proses sekresi ini mengikutsertakan penahanan kalium, asam urat, amino organic, dan ion hydrogen yang berfungsi untuk memperbaiki komponen buffer darah dan mengeluarkan zat-zat yang mungkin terjadi.
Setiap harinya ginjal manusia bekerja menyaring darah dan menghasilkan urine. Jumlah Urine yang dihasilkan setiap manusia berbeda-beda tergantung dari jumlah air yang dikonsumsi, suhu serta tekanan yang dialami seseorang. Dalam kehidupan sehari-hari kita mengetahui bahwa urin manusia rata-rata berwarna kekuningan dan sedikit berbau. Nantinya didalam laporan ini akan dijelaskan apa saja yang terkandung didalam urine manusia.
Proses Pembentukan Urin :
1. Filtrasi (penyaringan)
Proses filtrasi terjadi di kapsul Bowman dan glomerulus. Dinding luar kapsul Bowman tersusun dari satu lapis sel epitel pipih. Antara dinding luar dan dinding dalam terdapat ruang kapsul yang berhubungan dengan lumen tubulus kontortus proksimal. Dinding dalam kapsul Bowman tersusun dari sel-sel khusus (prodosit).
Proses filtrasi terjadi karena adanya perbedaan tekanan hidrostatik (tekanan darah) dan tekanan onkotik (tekanan osmotik plasma), dimulai ketika darah masuk ke glomerulus, tekanan darah menjadi tinggi sehingga mendorong air dan komponen-komponen yang tidak dapat larut melewati pori-pori endotelium kapiler, glomerulus, kemudian menuju membran dasar, dan melewati lempeng filtrasi, lalu masuk ke dalam ruang kapsul Bowman.
2. Reabsorpsi (penyerapan)
Proses reabsorpsi terjadi di tubulus kontortus proksimal, lengkung henle, dan sebagian tubulus kontortus distal.reabsorpsi dilakukan oleh sel-sel epitel di seluruh tubulus ginjal. Banyaknya zat yang direabsorpsi tergantung kebutuhan tubuh saat itu. Zat-zat yang direabsorpsi adalah air, glukosa, asam amino, ion-ion Na+, K+, Ca2+, Cl-, HCO3-, HbO42-, dan sebagian urea.
Reabsorpsi terjadi secara transpor aktif dan transpor pasif. Glukosa dan asam amino direabsorpsi secara transpor aktif di tubulus proksimal. Reabsorpsi Na+, HCO3- dan H2O terjadi di tubulus kontortus distal.
Proses reabsorpsi dimulai ketika urin primer (bersifat hipotonis dibanding plasma darah) masuk ke tubulus kontortus proksimal. Kemudian terjadi reabsorpsi glukosa dan 67% ion Na+, selain itu juga terjadi reabsorpsi air dan ion Cl- secara pasif. Bersamaan dengan itu, filtrat menuju lengkung henle. Filtrat ini telah berkurang volumenya dan bersifat isotonis dibandingkan cairan pada jaringan di sekitar tubulus kontortus proksimal. Pada lengkung henle terjadi sekresi aktif ion Cl- ke jaringan di sekitarnya. Reabsorpsi dilanjutkan di tubulus kontortus distal. Pada tubulus ini terjadi reabsopsi Na+ dan air di bawah kontrol ADH (hormon antidiuretik). Di samping reabsorpsi, di tubulus ini juga terjadi sekresi H+, NH4+,  urea, kreatinin, dan obat-obatan yang ada pada urin.
Hasil reabsorpsi ini berupa urin skunder yang memiliki kandungan air, garam, urea dan pigmen empedu yang berfungsi memberi warna dan bau pada urin.
3. Augmentasi (pengumpulan)
Urin sekunder dari tubulus distal akan turun menuju tubulus pengumpul. Pada tubulus pengumpul ini masih terjadi penyerapan ion Na+, Cl-, dan urea sehingga terbentuklah urin sesungguhnya. Dari tubulus pengumpul, urin dibawa ke pelvis renalis, urin mengalir melalui ureter menuju vesika urinaria (kantong kemih) yang merupakan tempat penimpanan sementara urin.
Urine memiliki sifat-sifat sebagai berikut :
1. Volume urin normal orang dewasa 600 – 2500 ml/hari, ini tergantung pada masukan air, suhu luar, makanan dan keadaan mental/fisik individu. Produk akhir nitrogen dan kopi, teh, alkohol menpunyai efek diuresis.
2. Berat jenis berkisar antara 1,003 – 1,030.
3. Reaksi urin biasanya asam dengan pH kurang dari 6 (bekisar 4,7-8). Bila masukan protein tinggi, urin menjadi asam sebab fosfat dan sulfat berlebihan dari hasil katabolisme protein. Keasaman meningkat pada asidosis dan demam. Urin menjadi alkali karena perubahan urea menjadi amonia dan kehilangan CO2 di udara. Urin menjadi alkali pada alkaliosis seperti setelah banyak muntah.
4. Warna urin normal adalah kuning pucat atau ambar. Pigmen utamanya urokrom, sedikit urolobin dan hematopofirin. Pada keadaan demam, urin berwarna kuning tua atau kecoklatan, pada penyakit hati pigmen empedu mewarnai urin menjadi hijau, coklat, atau kuning tua. Darah (hemoglobin) memberi warna seperti asap sampai merah pada urin. Urin sangat asam mengendapakan garam-garam asam urat dengan warna dadu.
5. Urin segar beraroma sesuai dengan zat-zat yang dimakan.
 Unsur-unsur dalam urin
1. Unsur-unsur normal dalam urin.
    a. Urea (25-30 gram) merupakan hasil akhir dari metabolisme protein pada mamalia.
    b. Amonia, pada keadaan normal terdapat sedikit dalam urin segar. Pada penderita 
        diabetes millitus, kandungan amonia dalam urinnya sangat tinggi.
   c. Kreatinin dan kreatin (kreatinin : produk pemecahan kreatin), normalnya 20-26 
       mg/kg pada laki-laki, dan 14-22 mg/kg pada perempuan.
   d. Asam urat, adalah hasil akhir terpenting oksidasi purin dalam tubuh. Asam urat 
      sangat sukar larut dalam air, tetapi mengendap membentuk garam-garam yang 
      larut dengan alkali. Pengeluaran asam urat meningkat pada penderita leukimia, 
      penyakit hati berat.
  e. Asam amino: hanya sedikit dalam urin. Pada penderita penyakit hati yang lanjut 
      karena keracunan, maka jumlah asam amino yang diekskresikan meningkat.
  f.  Klorida (terutama NaCl), pengeluarannya tergantung dari masukan.
  g.  Sulfur, berasal dari protein yang mengandung sulfur pada makanan.
  h.  Fosfat di urin adalah gabungan dari natrium dan kalium fosfat, berasal dari 
       makanan yang mengandung protein berikatan denagn fosfat.
  i.  Oksalat dalam urin rendah. Pada penderita hiperoksaluria jumlah oksalat relatif 
      tinggi.
  j.  Mineral: Na, Ca, K, Mg ada sedikit dalam urin.
  k. Vitamin, hormon dan enzim dalam urin sedikit.

Unsur abnormal dalam urin
Protein: Proteinuria (albuminuria) yaitu adanya albumin dan globulin dalam urin dengan konsentrasi abnormal. Proteinuria fisiologis terdapat + 0.5% protein, ini dapat terjadi setelah latihan berat, setelah makan banyak protein, atau sebagai akibat dari gangguan sementara pada sirkulasi ginjal bila seseorang berdiri tegak. Kasus kehamilan disertai Proteinuria sebesar 30-35%. Proteinuria patologis, disebabkan karena adanya kelainan dari organ ginjal karena sakit. Misalnya nefrosklerosis suatu bentuk vaskuler penyakit ginjal, dihubungkan dengan hipertensi arterial. Proteinuria pada penyakit ini meningkat dengan makin beratnya kerusakan ginjal. Proteinuria dapat juga terjadi karena keracunan tubulus ginjal oleh logam-logam berat (raksa(Hg), arsen(As), bimut(Bi)).

Glukosa: glukosuria tidak tetap dapat ditemukan setelah stress emosi (pertandingan atletik yang menegangkan), 15% kasus glikosuria tidak karena diabetes. Galaktosuria dan laktosuria dapat terjadi pada ibu selama kehamilan, laktasi maupun menyapih. Pentosuria terjadi sementara sesudah makan makanan yang mengandung gula pentosa. Benda-benda keton dapat terjadi pada saat kelaparan, diabetes, kehamilan, anestesia eter. Terdapat bilirubin, dan adanya kandungan darah karena kerusakan pada ginjal.


IV.            Alat dan Bahan

Ø  Alat
1.      Tabung reaksi 

2.      Pipet 

3.      Pembakar Spirtus

Ø  Bahan

1.      Urine 


2.      Larutan Benedict

3.      Larutan AgNO3 1-2 tetes


V.                   Cara Kerja
a.       Langkah kerja pengujian glukosa dalam urine
1.      Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam praktikum
2.   Diambil 3 mL larutan Benedict’s menggunakan pipet tetes  dan memasukkannya kedalam tabung reaksi
3.      Selanjutnya didihkan larutan Benedict’s tersebut diatas  api  Bunsen spirtus
4.      Ditambahkan 8 tetes uirine  ke  dalam larutan tadi  dan memanaskannya lagi selama 1-2 menit kemudian biarkan dingin
5.      Diamati perubahan warna dan endapan yang terjadi, bila :
ü  Hijau                          : Kadar Glukosa 1 %
ü   Merah                      : Kadar Glukosa 1,5 %
ü  Orange                      : Kadar Glukosa 2 %
ü  Kuning                       : Kadar Glukosa 5 %
b.      Langkah kerja pengujian chloride dalam urine
1.      Dimasukkan 5 mL urine kedalam  tabung reaksi kemudian menetesinya dengan  larutan AgNO3  1-2 tetes
2.      Diamati perubahan yang terjadi, jika terdapat endapan putih menunjukkan adnaya chloride radikal
c.       Langkah kerja pengujian amonia dalam urine
1.      Dimasukkan 1 mL urine kedalam tabung reaksi
2.      Dipanaskan urine tersebut dengan menggunakan Bunsen spirtus
3.      Dicium bagaimana baunya
VI.                Hasil Pengamatan

a.       Hasil pengamtan pengujian glukosa dalam urine
Sampel Urine
Perubahan Warna
Keterangan
Ade Lisna
Biru pekat
Mengandung 0,1% glukosa

b.       Hasil pengamatan pengujian chloride dalam urine
Sampel urine
Ada tidaknya endapan putih
Keterangan
Ade Lisna
Terdapat endapan putih
Terdapat chlorida radikal

c.       Hasil pengamatan ammonia dalam urine
Sampel urine
Bau
Keterangan
Ade Lisna
Tercium bau pesing
Terdapat amonia


VII.                   Pembahasan
a.       Pembahasan glukosa dalam urine
              Adanya kandungan glukosa dalam urine dapat diketahui ketika perubahan warna yang terjadi pada larutan Benedict’s yang sudah dipanaskan kemudian di tetesi urine memiliki warna hijau, merah, orange dan kuning. Namun data yang di dapatkan pada praktikum yang kami lakukan setelah larutan Benedict’s di tetesi urine warna yang di hasilkan yaitu biru pekat artinya urine yang di uji normal atau hanya mengandung kadar glukosa 0,1 %.
b.      Pembahasan chloride dalam urine
              Uji kandungan chlorida dalam urine dapat diketahui ketika terdapat endapan putih pada urine  yang di tetesi dengan larutan AgNO3. Jika terdapat endapan putih pada urine tersebut maka urine mengandung chlorida, namun pada praktikum yang kami lakukan dalam urine yang di tetesi larutan AgNO3 terdapat endapan sehingga urine dikatakan mengandung chloride.
c.       Pembahasan amonia daalam urine

              Uji ammonia dalam urine dapat diketahui jika dalam urine yang sudah di panaskan tidak tercium bau maka urine tersebut tidak normal, tetapi jika urine tersebut tercium bau maka urin tersebut normal. Namun dalam praktikum yang kami lakukan ternyata urine yang sudah di panaskan tersebut tercium bau pesing maka urine tersebut dikatan normal atau terdapat amonia. 


VIII.                   Kesimpulan
a.       Kesimpulan glukosa dalam urine
Dari hasil pengamatan dapat di simpulkan bahwa urine yang di ujikan normal Karena hanya memiliki kandungan glukosa 0,1 %.
b.      Kesimpulan chloride dalam urine
Dari hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa urine yang di uji tidak mengandung chlorida karena tidak terdapat endapan.
c.       Kesimpulan amonia dalam urine

Dari hasil praktikum yang kami lakukan dapat disimpulkan bahwa dalam urin yang dipanaskan tercium bau, maka urine normal.



DAFTAR PUSTAKA

Nurjaman, Sopyan.2010. Modul Praktikum Fisiologi Hewan. Garut : Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP)

Pearce, E.,2004. Anatomi dan Fisiologi Manusia untuk paramedis.
Gramedia Pustaka Utama


Pertanyaan( Glukosa dalam urine)
1.  Buatlah siklus perubahan glukosa dalam  tubuh dan jelas kan mengapa terjadi  perubahan demikian ?
2.      Bagaimanakah jumlah glukosa dalam darah setelah beberapa saat anda makan
3.       Bagaimanakah hubungannya dengan kadar glukosa optimum darah ?
Jawab
1.      Glukosa berasal dari pemecahan amilum dan maltosa. Glikosa masuk siklus glikolisis menghasilakan asam piruvat, kemudian masuk daur krebs dan transporelektron untuk menghasilkan energi berupa ATP.perubahan ini terjadi agar glukosa mudah di serap dan dapat memberikan energi bagi tubuh. Bila konsentrasi glukosa menurun, karena dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan energi tubuh, pankreas melepaskan glukosa,hormon yang menargetkan sel-sel di liver (hati). Kemudian sel-sel ini mengubah glikogen menjadi glukosa (proses ini disebut glikosterolisis). Glukosa dilepaskan kedalam aliran darah, hingga meningkatkan level gula darah. Apabila level gula darah meningkat, itu mungkin arena perubahan glikogen atau kara proses pencernaan makanan. Hormon yang lain dilepas lepas dari butir-butir sel yang terdapat di dalam pankreas. Hormon ini disebut insulin, menyebabkan organ hati mengubah lebih banyak glukosa menjadi glikogen. Proses ini disebut glikosterosi, yang mengurangi level gula darah. Perubahan-perubahan teersebut terjadi untuk menjaga keseimbangan atau homeostatis.
2.       Jumlah glukosa dalam darah akan naik beberapa saat setelah makan terkait penyerapan glukosa oleh tubuh. Karena saat kita makan makanan yang megadung karbohidrat, karbohidrat tersebut akan di ubah menjadi glukosa. Hubungan yaitu bahwa ketika beberapa saat setelah makan, terjadi penigkatan kadar glukosa darah dalam tubuh. Dengan naiknya kadar glukosa dalam darah akan merangsang pankreas untuk menghasilakn insulin fungsinya untuk mencegah kenaikan kadar gula darah lebih lanjut. Insulin memasukan gula kedalam darah sehigga bisa menghasilkan energi atau disimpan sebagai cadangan energi. Kelebihan glukosa di dalam bentuk glikogen dalam hati atau otot sehingga kadar glukosa dalam darah tetap dalam keadaan optimum.
3.      Jumlah glukosa dalam darah akan naik beberapa saat setelah makan terkait penyerapa glukosa dalam tubuh karena saat kita makan makanan yang banyak mengandung karbohidrat, karbohidrat tersebut akan di ubah enjadi glukosa, sehingga jumlah glukosa dalam darah akan tinggi.
            Pertanyaan chloride dalam urine
1.      Chlorida yang terdapat  dalam urine berasal dari apa ?jelaskan !
2.      Apakah chloride selalu  terdapat dalam urine ?
3.      Tuliskan reaksi kimia yang terjadi pada percobaan diatas bila uji tersebut positif !
            Jawaban
1.      Chlorida yang terdapat dalam urine berasal dari makanan yang mengandung garam (NaCl)
2.      Pada tubuh tidak selamanya mengandung klor, karena saat makanan yang di konsumsi tidak mengandung klor, maka dalam tubuh pun tidak mengandung klor atau hanya sedikit. Kandungan klor selain terdapat dalam urine sendiri juga terdapat di dalam makanan dan air.
3.      NaCl ------> Na+ + Cl-
AgNO3 + NaCl ------> AgCl + NaNO3
            Pertanyaan (ammonia dalam urine)
1.      Berasal dari apakah ammonia dalam urine tersebut ?
2.       Enzim apa yang bekerja ?
 Jawab
1.     Ammonia dalam urine berasal dari hasil deaminasi asam amino yang terjadi terutama di dalam hati dan ginjal

2.      Glutaminase mengubah glutamine menjadi asam glutamate